Kelamin Ketiga

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Bab 8

Menjadi pelacur adalah kebejatan yang hanya dipilih oleh manusia bajingan

—Natcha Siriwat—

Hoorne memegang payudara Natcha, mencengkeram dengan lembut selama beberapa detik, lalu tetiba dicengkeram dengan kasar. Natcha melempar tangan Hoorne sejauh mungkin. “Lebih baik kau pegang payudaramu sendiri.”

Hoorne mencucu, menatap dadanya dan meletakkan tangan Natcha ke payudaranya. “Gimana? Implan payudaraku enggak sebagus milikmu, kan? Pasti banyak lelaki yang suka mengisap dadamu. Tapi aku juga suka, sih.”

Natcha mengalihkan muka. “Enyah!”

“Baiklah-baiklah! Aku pergi,” Hoorne berdiri dan melangkah mundur, tetapi ia mendekati Natcha lagi untuk menyeret kaki dan menindihnya. “Tapi aku berbohong.”

Hari itu masih siang. Natcha sudah lelah dengan permainan semalam. Rasanya sudah remuk sekali. Selama menjadi pelacur, dia tidak pernah merasakan seremuk ini. Dia pun tidak pernah dijadikan ‘piala’ bergilir, apalagi oleh enam orang yang sama-sama berwujud perempuan.

Ada yang bilang, gara-gara di Kubikel tidak ada lelaki dan rindu disetubuhi oleh lelaki yang memiliki penis utuh. Ada pula yang ikut-ikutan, sebab dia tidak tau harus melakukan apa di Kubikel—dan sepertinya bergabung menjamah Natcha lebih asyik ketimbang bengong semata. Namun, yang paling mengusik hati Natcha, sebab ada yang bilang kalau Rung D-K.01 selalu diberikan Ubi baru untuk dinikmati bersama. Kebiasaan itu terbentuk setelah Sarinya menjadi Kubik.

Mendengar hal itu, Natcha langsung menimpali tanya, “Sejak Sarinya menjadi Kubik?”

Tim menyahut. “Kau penasaran?”

“Ya.”

“Aku akan menjawabnya, asal lepaskan dulu pakaianmu.” Tim mengatakannya sambil tersenyum.

Natcha menolak. “Aku tidak sudi.”

“Hei, bukankah kau sudah pernah ditelanjangi di sini. Apa bedanya kalau aku meminta kau telanjang lagi,” jawab Tim dengan enteng.

“Apa kau orang berkuasa di Rung ini?” tanya Natcha.

Tim tersenyum bangga. “Tentu saja itu aku.”

Natcha mendekati Tim. “Berhenti berisik!” sergahnya seseorang tanpa kompromi. Seketika ia berdiri dengan sikap menentang, menatapnya dengan marah, dan meninjunya berkali-kali.

Tim tidak terima. Setelah mengelus pipi, ia menghantam Natcha. “Kau pikir aku tidak berani? Berikan wajahmu, biar kupukul sampai babak belur!”

Dengan mata memancarkan kemarahan, dia merentangkan tinjunya dengan kekuatan penuh, mencoba mendaratkan pukulan mematikan pada wajah Natcha. Namun, Natcha punya refleks yang cukup tajam dan mengangkat tangannya untuk menangkis pukulan dari Tim, sampai menyebabkan suara getaran keras di udara.

Natcha bukan hanya menghindari pukulan, tetapi juga memberikan serangannya. Sebuah tendangan rendah meluncur cepat, mengarah ke kakinya. Meskipun Tim berusaha menghindar, tendangan Natcha telah mengenai paha. Tim tidak tinggal diam. Dengan gerakan kilat, dia merespon dengan serangkaian pukulan bertubi-tubi. Seiring berjalannya waktu, tenaganya mulai menipis. Setiap pukulan dan tendangan terasa lebih lamban, dan kekuatannya mulai mengendur.

Ketika melihat celah, Natcha membanting Tim dan mencekiknya dalam posisi tengkurap. Wajah Tim sampai membiru sebab sulit bernapas. “Jika kau mati di sini, apa aku akan dipukuli atau dilecehkan bersama-sama lagi? Tidak kan?”

Tim tidak bersuara sebab tidak mampu menyuarakannya.

Natcha mendekatkan kepalanya di samping telinga Tim. “Apa ada seseorang yang berduka jika kau mati di sini?” tanyanya, “anehnya tidak ada yang berusaha melerai kita.”

Tim berteriak ketika Natcha menggigit telinganya. Suaranya terputus-putus sebab tenggorokannya masih terjepit dada dan lengan Natcha. Dan dia makin berusaha menjerit saat telinganya hampir terputus.

Hoorne berkata, “Wah, Sarinya benar. Kau gila sungguhan!”

Ubi di Rung itu menyaksikan akhir dari kehidupan Tim. Setelah telinganya terputus, Natcha mendadak berdiri dan melepas cekikannnya. Sebelum Tim berpikir untuk memberikan serangan balasan, Natcha terlebih dahulu menginjak-injak kepala dan perutnya. Memang tidak hancur, tetapi mereka sepakat kalau kepala Tim memiliki luka retak yang cukup parah.

“Dia mati! Dia mati!” Terdengar suara seorang remaja dari sudut yang agak jauh.

“Tapi apa dia benar-benar mati?” Suara yang lain menimpali.

“Mungkin beneran mati. Kalau hidup lagi, berarti dia mati suri.”

Lalu, para Ubi di Rung itu terdengar tertawa gaduh. Natcha mulai berani mengamati Ubi-Ubi itu. Rung memiliki ukuran sekitar 9 x 12 meter—ukuran yang luas untuk sebuah ruangan yang hanya diisi tujuh orang, ralat, sudah enam orang termasuk dirinya.

Perempuan yang mengaku dirinya khatoey, Hoorne, hanya duduk di tempat dia melakukan remasan payudara pada Natcha. Tidak bergeming ketika Tim terdesak oleh Natcha.

Seorang remaja perempuan yang terkesan seperti anak stensilan[1] dan berbau matahari. Rambutnya kusut, tidak pernah disisir, dan seringkali tergulung. Namun, terlihat cantik dengan kulit putih—seputih orang sakit albino. Natcha pun bertanya, “Kau! Siapa namamu?”

Anak remaja itu terlihat ogah-ogahan menjawab. “Preeyanuch.”

“Panggilanmu? Pree? Yan?”

“Ten. Aku anak ke sepuluh mama dari suaminya yang ke tujuh.”

Natcha menyengir. “Ah. Aku jadi tidak suka nama panggilanmu setelah dengar alasannya.”

Preeyanuch mengendikkan bahu. “Sejujurnya aku juga ogah dipanggil Ten.”

Natcha beralih pandangan. Seorang perempuan tua yang tidak terlalu tua. Mungkin kisaran 40 tahunan. Seumuran dengan Madam Dao dan tidak terlalu cantik, tetapi memiliki pinggul kecil. Sedangkan bokong dan payudaranya besar. Perempuan itu mengatakan namanya terlebih dahulu ketika Natcha mulai meliriknya. “Ahara,” katanya, “pelacur yang berkarier selama dua puluh lima tahun di lantai satu.”

“Kau pasti punya banyak pengalaman,” kata Natcha yang tidak memiliki kesan pujian.

“Bukan cuma pengalaman, tetapi juga tawaran berbagai gaya.” Ahara diam sebentar. “Apa kau pernah bercinta dengan posisi seluruh badanmu tertempel di dinding?”

“Wow, aku tidak pernah memikirkan itu. Kapan-kapan akan kucoba!” Hoorne menyahut tiba-tiba.

Natcha meringis jijik. “Sungguh imajinasi yang tidak pernah terpikirkan oleh pelacur lantai tiga bahkan oleh Madam Dao sekalipun.”

Ahara menjawab dengan bangga. “Maka dari itu aku setia menjadi pelacur di lantai satu. Kadang-kadang pelanggan yang punya uang pas-pasan punya ide-ide brilian yang kusuka.”

“Itu bukan brilian, tapi gangguan kejiwaan!”

Hoorne menyahut kembali. “Benar! Dan sepertinya kami punya gangguan jiwa.”

“Ya, ya.” Ahara mengangguk setuju.

“Mama pernah memberikanku saran untuk bercita dengan keadaan digantung terbalik.” Preeyanuch membuat kepala Natcha makin berdenyut: nyut-nyut! Nyut-nyut. Denyutnya cepat sekali.

Sedangkan Ahara bertepuk tangan sekali sambil memasang ekspresi ibu-ibu sayang anak. “Oh, Sayang, kau harus mempercayai pengalaman Mama,” katanya sambil merentangkan tangan dan menghampiri Preeyanuch.

Nyut-nyut Natcha jadi makin cepat.

“Jangan khawatir. Kau akan terbiasa dengan pembicaraan nyeleneh mereka.” Seorang perempuan—yang tidak tulen—membuat pandangan Natcha beralih.

“Ah, mungkin kau satu-satunya orang waras di Rung ini.” Natcha lega.

“Mana mungkin! Aku! Mano Kiat Sitthibawornchot, yang paling waras di sini,” ujarnya dengan semangat.

Natcha melongo.

“Hay! Hallo! Ola![2] Ni Hao![3]

“Ya.” Natcha membalas lambaian tangannya dengan wajah sepah. Perempuan yang mengaku paling waras itu, justru paling terlihat tidak waras.

“Dia! Namuang!” Perempuan berisik itu menunjuk perempuan yang dia puji waras tadi. “Dia pelacur pecinta buku dan dialah yang paling aneh di Rung ini.”

Natcha tidak bisa berkata-kata. Dia kembali menelan ludah. Apa yang salah dari seseorang yang menyukai buku?



[1] Merujuk pada pemaknaan yang berkembang di masyarakat, yakni erostisme.

[2] Ola: bermakna “hallo” dalam bahasa barzil

[3] Ni Hao: bermakna “hallo” dalam bahasa cina


Other Stories
After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Tertipu Atau Terlalu Berharap

Seorang mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di salah satu kampus ternama di wilayah ...

Arti Yang Tak Pernah Usai

Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...

Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Download Titik & Koma